Di Era Digital Yang Semakin Cangih Ini, Kita Harus Waspada Terhadap Kejahatan Siber


Di era yang serba digital ini, pemerintah, dunia pendidikan, kesehatan dan lainnya melakukan kegiatan secara online.  Bahkan dunia online semakin memudahkan  masyarakat untuk menyampaikan berbagai informasi. Namun di dunia digital atau online, juga marak terjadinya gangguan dari oknum atau kelompok yang sengaja membuat kekacauan.


 Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Bantul Ir. Fenty Yusdayati, MT saat menyampaikan sambutan pembukaannya berlangsung di Ruang Mandala Sabha Madya Gedung Induk Komplek Parasamya bantul, Selasa (7/7). Kami mengundang 75 desa yang ada di Kabupaten Bantul, jelasnya,  untuk mengikuti acara workshop “ Keamanan Informasi Pada Layanan Online Di Tengah Pandemi Covid-19” agar kita bisa mengantisipasi sebelum gangguan terjadi maupun mengambil tindakan ketika terjadi gangguan, terutama terhadap Sistem Informasi Desa (SID). “Karena potensi daerah berbasis di semua  desa, maka desa harus semakin maju dalam membangun desanya serta dalam mengelola SIDnya,” terang Bu Fenty.


Acara ini akan kami laksanakan selama dua hari, katanya,  hari ini kami undang sebanyak 35 desa dan besok 40 desa. “Karena pentingnya workshop ini bagi pengelolaan SID, maka saya berharap para peserta bisa mengikuti hingga selesai” harap Bu Fenty.

 


Untuk menyampaikan materinya, kata Bu Fenty,  kami mengundang dua nara sumber ahli yaitu Dedy Haryadi, ST, M Kom. dosen Universitas Ahmad Yani Yogyakarta dan Setyo Budi Prabowo, SST Kepala Musium Sandi Yogyakarta dari Badan Siber dan Sandi Negara RI yang menyampaikan paparan bertema ‘Edukasi Budaya Keamanan Informasi’.


Dalam paparannya diantaranya Budi menyampaikan bahwa , desa mempunyai potensi yang sangat besar bagi daerah maupun negara. “Dulu ada Smart City, nanti akan ada Fillage City,” tambahnya. Data potensi desa yang ada di SID cukup rawan terhadap tindakan penyalah gunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk hal-hal yang negatif dan sangat merugikan. Budi berpesan kepada semua pengelola SID untuk melakukan ‘Budaya Internet Sehat’ diantaranya jaga, waspada dan lawan terhadap hoacker, dan jangan menggunakan aplikasi yang tidak jelas.


Sementara Dedy dalam paparannya diantaranya menjelaskan bahwa di dunia online terjadi trend keamanan siber di 2019 seperti terjadi pemerasan online dengan berbagai alasan. Sedangkan trend di 2020 diantaranya terjadinya kebocoran data, kesenjangan kemampuan keamanan siber dan permasalahan komputerisasi serta kerawanan serangan siber bersponsor.


Hal tersebut, diperberat oleh sangat terbatasnya ahli keamanan siber, padahal kebutuhan sangat banyak. Profil kejahatan siber ada beberapa motif, diantaranya bersifat rekreatif, kriminal, hocker, organized crime dan state sponsor. Contoh yang bersifat rekreatif terjadi beberapaa waktu lalu, di tengah-tengah pendemi Covid-19,  Kemenkes, Kemendagri dan Dinas Kominfo DIY mendapat ancaman cukup keras, setelah dilacak pengancam adalah anak umur belasan tahun yang iseng utak-utik gadged untuk coba-coba menggunakan aplikasi di gadget.


Sedangkan kejahatan siber bersponsor yang melakukan sebuah negara dengan tujuan tertentu, banyak terjadi di negara besar di luar Indonesia.
Pada sesi tanya jawab, ada beberapa perwakilan desa yang menyampaikan bahwa bimbingan seperti pada acara workshop ini sangat bagus untuk disampaikan di setiap desa agar dalam pengelolaan SID bisa lebih maksimal dan aman dari gangguan kejahatan siber.

 



FORM KOMENTAR





DAFTAR KOMENTAR (0)