Roadshow Miko Cakcoy di MAN 1 Bantul, Siswa Harapkan Pembelajaran Tatap Muka



Untuk ketiga kalinya Diskominfo Kabupaten Bantul  menggelar Roadshow Miko Cakcoy Goes to School dengan tema Berprestasi di Tengah Pandemi di Madrasah ‘Aliyah Negeri (MAN) 1 Bantul. Senin  pagi (18/10/2021). 

Roadshow Miko Cakcoy ini dihadiri oleh siswa MAN 1 Bantul dengan jumlah yang terbatas dan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Acara ini disiarkan langsung di Channel Youtube Bantul TV dan channel Youtube Miko Cakcoy.

Acara ini mengundang 3 narasumber yang berbeda yaitu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bantul Drs. Isdarmoko mewakili Bupati Bantul, M.Pd., M.Par., Dosen Psikologi UAD Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M. Si., dan Perwakilan Management Desle Shoes Suhada Fatony.

Dalam paparannya, Kepala Dispora Bantul Isdarmoko mengajak segenap pelajar untuk tetap semangat belajar di tengah-tengah pandemic Covid-19, dan berharap masa depan siswa-siswi di Bantul sukses semuanya, tetap sabar dan bekerja keras jangan terpengaruh dengan teman yang mempunyai jiwa tidak sportif, mencontek contohnya. 

Perwakilan Management Desle Shoes Suhada Fatony menyampaikan bahwa sebelum terjun ke bisnis sepatu dia seorang broadcaster, dulunya juga sebagai distributor sepatu-sepatu ternama, berangkat untuk mengembangkan usaha dan tekadnya ingin membuka lapangan pekerjaan ia membanting setir bisnis di sepatu dengan segmentasi menengah dengan produk yang berkualitas.

“ Di era Covid-19 ini, perusahaannya masih eksis berproduksi, dengan aneka model sepatu mampu menggaet animo masyarakat, banyak yang memuji dengan daya tahannya tanpa meninggalkan model sepatu jaman now, “ kata Fatony.

Sementara Hadi Suyono dalam paparannya mengajak kepada pelajar untuk terus belajar dan berlatih, sesuai dengan minatnya, belajar di sekolah MAN ini merupakan pondasi lahir batin untuk melangkah di masa depan, walaupun kini dengan adanya pembelajaran daring (online) dirasakan sendiri oleh siswa tidak efektif dan terjadi penilaian hasil belajar yang subyektif.

Ketika ditanya, siswa mayoritas memilih belajar secara fisik tatap muka, karena metode ini mampu memberikan konsentrasi untuk belajar. Terkait psikologi bahwa dengan adanya pembelajaran online sekedar transfer pengetahuan akan tetapi proses-proses ruh pendidikan tidak berlangsung. Hal ini membuat siswa maupun mahasiswa sulit untuk berkonsentrasi untuk belajar dan menganggap bahwa sekolah atau kuliah hanya main-main saja. 

“ Pembelajaran online memang tidak bisa mewakili namun metode pembelajaran blended antara Offline dan Online kedepannya akan sangat diperlukan, “ terang Hadi Suyono.

Hadi Suyono menambahkan, ada sisi-sisi menarik yang bisa kita masuki, jadi dampaknya adalah nanti kalau proses pembelajaran tidak hati-hati, kualitasnya akan menurun. Proses softskill, pendidikan karakter seperti kepercayaan diri dan komunikasi yang baik akan tercipta melalui pembelajaran secara offline.



FORM KOMENTAR





DAFTAR KOMENTAR (0)